A. Pendahuluan
Dalam struktur susunan bahasa arab, terkadang
suatu lafadz itu bisa dapat berubah harokat pada huruf ahir nya yang kebanyakan
di sebabkan oleh perbedaan kondisinya dalam kalimat karena adanya perbedaan
amil yang memasukinya dan terkadang juga ada yang tetap tanpa ada perubahan di
ahir kalimat meskipun ada beberapa amil yang masuk pada lafadz. Untuk jenis
yang di sebutkan pertama yang mengalami perubahan pada harokat dalam susunan
bahasa arab di namakan dengan mu’rab, sedangkan jenis yang di sebutkan
bagian kedua yang tidak mengalami perubahan pada ahirnya kalimat di namakan
dengan mabni. Dengan demikian lafadz mu’rab itu kebalikan dari
lafadz yang mabni.
Perubahan suatu lafadz yang di sebabkan oleh ‘amil
yang masuk itu di namakan dengan i’rab
dan apabila tidak adanya perubahan pada suatu lafadz itu dinamakan dengan mabni
atau bina’.
B. Pengertian i’rab.
Kata i’rab berasa dari bahasa arab yang
mempunyai arti perubahan sedangkan menurut professor doktor sarjana ahli nahwu
yaitu perubahan yang terjadi pada ahir kata yang di sebabkan oleh perbedaan amil
yang masuk, baik berupa lafadz atau taqdirnya. Sedangkan bina’ itu
merupakan kebalikan dari i’rab yang masing-masing keduanya memiliki
karekteristik yang sangat berbeda-beda.[1]
Sedangkan i’rab menurut ulama ahli
nahwu yang sebagian di ungkapkan dalam kitab al-jurumiyah yaitu :
الإعراب
هو تغيير اواخرالكلم لاختلاف العوامل الداخلة عليها لفظا او تقديرا
“i’rab adalah perubahan beberapa
ahirnya kalimat yang di sebabkan oleh berbeda-bedanya amil yang masuk pada
kalimat tersebut baik secara lafadz atau kira-kira.”[2]
Dalam bahasa arab banyak di sekali
di temukan suatu lafadz yang mempunyai makna dan saling berlawanan, yang mana
perbedaan keduanya hanya terletak pada harokatnya saja, seperti pada lafadz جِلسَة dengan memberi
harokat pada huruf jim nya dan pada lafadz جَلسَة
dengan memberi harokat pada huruf jim nya.lafadz yang di sebutkan
pertama mempunya makna cara,ragam atau kebiasaan duduk sedangkan lafadz yang
kedua mempunyai arti persidangan.demikian juga lafadz ضُحَكة yang
mendhomahkan huruf ض
dan mengfathah kan huruf ح
yang berarti seoarang laki-laki menertawakan orang lain secara
berlebihan.vdalam hal ini Shighot yang digunakannya adalah Shighoh mubalaghah
(berlebih-lebihan).berbeda dengan lafadz ضُحْكة
dengan mendhomah huruf ض dan mengsukun
huruf ح
yang berarti oarang yang menjadi bahan tertawaan.
Pengetahuan mengenai masalah ini
sangant lah penting ,di karenakan dengan ilmu ini pula bisa dapat di ketahui
beberapa makna-makna yang terdapat dalam Al-Qur’an.dalam sebuah riwayat hadis
di jelaskan bahwa mempelajari ilmu itu sama dengan mempelajari Al-Qur’an.dalam
hal ini imam al-darimi telah meriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khathab yang
mengatakan bahwa: Pelajarih struktur bahasa (al-lahn),ilmu faroidh,dan sunnah
sebagaimana kalian mempelajari ilmu al-Qur’an.bahkan seorang dengan sengaja
membaca surah QS.al-Hasyr/59:24 yang berbunyi :
uqèd
ª!$#
ß,Î=»yø9$# äÍ$t7ø9$# âÈhq|ÁßJø9$# ( ã&s!
âä!$yJóF{$#
4Óo_ó¡ßsø9$#
4 ßxÎm7|¡ç ¼çms9 $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur
( uqèdur
âÍyèø9$# ÞOÅ3ptø:$# ÇËÍÈ
24. Dialah Allah yang
Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul
Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan tanpa memperhatikan ilmu ini bisa menjadikan nya
kafir. Kekufuran tersebut, sebenarnya hanya lebih di sebabkan oleh kesalahan di
dalam memberikan harokat. Dalam al-qur’an tersebut ayat yang berbunyi :
uqèd ª!$# ß,Î=»yø9$# äÍ$t7ø9$# âÈhq|ÁßJø9$#
“ Dialah allah
yang menciptakan,yang mengadakan,yang membentuk rupa.”
Kalau seandainya lafadz (المصوّر) dengan memberi tanda –َ pada و nya
maka akan sangat signifikan sekali perubahannya yaitu ‘yang terbentuk’ yang dalam hal ini sangat tidak munkin
terjadi pada tuhan,Allah.
Oleh karena itu sangat pentingnya ilmu
ini,maka menjadi keharusan seseorang yang hendak memahami al-Qur’an untuk
mempelajarinya terlebih dahulu. Dengan ilmi ini dapat di ketahui seluk-beluk
al-Qur’an dan menjauhkan dari kekeliruan,juga dapat diketahui struktur bahasa
al-Qur’an,apakah mengunakan struktur al-jumlah al-islamiah (kalimat
nominal) atau mengunakan al-jumlah al-fi’liah (kalimat verbal), dan lain
sebagainya.
Di riwayatkan dari Yahya bin ‘Atiq.ia berkata
kepada Hasan: wahai Abu sa’id bagaimana jika ada seseorang yang mempelajari
bahasa arab ,yang deng’. lan nya ia ingin dapat membaca dan mengucapkan bahasa
arab dengan baik?”.lalu Hasan menjawab: “hai anak saudaraku,pelajarilah bahasa
arab,sebab seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan mengetahui seluk
beluknya,maka ia tidak akan keliru.seoarng yang mengkaji kitab Allah dan
berusaha untuk mengungkap rahasia-rahasianya hendaklah ia mengkaji
bentuk-bentuk kalimat dan juga kedudukannya masing-masing,apakah ia berstatus
sebagai mubtada’,khabar,fail,maf’ul,mabadi’al kalam (permula’an kalimat),su’al
wal jawab (soal dan jawab),dan lain sebagainya.
C. I’rab Perspektif Metodologis Praktis
Secara operasional, ada beberapa
langkah yang harus di perhatikan di dalam meng i’rab , di antaranya: pertama
, yang merupakan langkah awal dan harus di lalui adalah memahami makna ayat
yang hendak di i’rab ,apakah lafadz tersebut itu mufrad atapun murokab
(sendiri atau tersusun). Oleh karena itu,tidak di perbolehkan meng i’rab fawatihus
suwar, jika hal itu di masukkan ke dalam teks-teks yang mutasyabih, yaitu
teks-teks yang maknanya hanya di ketahui oleh Allah semata.
Dalam meng i’rab di samping
harus memperhatikan segi-segi lafadz secara lahiriyah, juga tidak di
perbolehkan mengesampingkan nilai aspek-aspek maknawiyah. Kesalahan
dalam meng i’rab itu kebanyakan karena terabaikannya aspek-aspek
maknawi, dan hanya memperhatikan aspek lahn semata.
Menurut Ibn Hisyam bahwa banyaknya
ulama generasi awal yang tergelincir di dalam kekeliruan semata di sebabkan
karena ketika meng i’rab al-Qur’an yang di perhatikan hanya aspek-aspek
dhahirnya lafadz dan tidak memperhatikan sama sekali aspek maknanya.seperti
yang terjadi pada QS.hud/11:87:
(#qä9$s% Ü=øyèà±»t è?4qn=|¹r& âæDù's? br& x8çøI¯R $tB ßç7÷èt !$tRät!$t/#uä ÷rr& br& @yèøÿ¯R þÎû $oYÏ9ºuqøBr& $tB (#às¯»t±nS ( ¨RÎ) |MRV{ ÞOÎ=yÛø9$# ßÏ©§9$# ÇÑÐÈ
87. Mereka berkata: "Hai Syu'aib,
Apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar Kami meninggalkan apa yang disembah oleh
bapak-bapak Kami atau melarang Kami memperbuat apa yang Kami kehendaki tentang
harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat Penyantun lagi
berakal[735].(QS.Hud/11:87)
Mereka meng ‘athaf kan lafadz an naf’ala kepada an natruka
merupakan sesuatu kekeliruan (al-bathil), sebab agama tidak
memerihtahkan kepada mereka untuk memperlakukan harta dengan sesuka hati
mereka. Yang bener adalah lafadz an naf’ala di ‘athaf kan kepada
lafadz ma, yang menjadi objek (ma’mul) bagi lafadz natruka.
Dengan demikian,maksutnya adlah bahwa agama memerintahkan untuk tidak
memperlakukan harta dengan sesuka hati.kekeliruan seperti itu di sebabkan
lafadz an dan fi’il terulang dua kali, dan dan antara keduanya
terdapat huruf ‘athaf .
Kedua, memperhatikan ketepatan gramatika bahasa arab. Kadang-kadang seseorang
yang meng i’rab hanya memperhatikan kelayakan (wajhan sholihan),
dan tidak memperhatikan ketepatan aspek gramatikalnya,dimana yang demikian bisa
sangat menyebabkan kesalahan.
Seperti dalam QS.al-Najm/53:51: wathamuda fama abqho (dan kaum
thamud,maka tidak ada seorang pun yang di tinggal kannya hidup.lafadz thamuda pada ayat
tersebut di anggap sebagai maf’ul muqaddam (objek yang di dahulukan).hal
yang demikian merupakan suatu kekeliruan yang sangat fatal, sebab perkara yang
jatuh setelah ma nafiah, itu tidak beramal pada kalimat sebelumnya.yang
bener adalah bahwa lafadz thamuda di ‘ataf kan kepada lafadz ‘adan yang terdapat
pada QS.an-Najm/53:50: وأنه أهلك عادا الأولى ,sehingga ayat tersebut bila di tulis kembali berbunya
sebagai berikut: وأهلك ثمودا .
Contoh senada seperti di atas dapat di jumpai dalam
QS.alAhzab/33:61: ملعونين
أينما ثقفوا أخذوا وقتلواتقتيلا
(dalam keadaan terla’nat,di mana
saja mereka jumpai, mereka di tangkap dan di bunuh dengan sehebat-hebatnya.(QS.al-Ahzab/33:61).
Lafadz mal’unina pada ayat di atas, jika di jadikan sebagai hal dari
lafadz thuqifu dan lafadz ukhidzu, merupakan sesuatu
kekeliruan.yang benar adalah bahwa lafadz tersebut di baca ashab karena
celaan (al-dzam).
Ketiga, menghindari dari perkara-perkara yang terlalu jauh dari
aturan yang baku (konvensional), aspek-aspek yang lemah, dan
bahasa-bahasa yang menyimpang (al-syadzah), dan mengambil suatu yang
dekat dengan aturan konvensional, kuat lagi fasih.manakala yang tampak
hanya aspek yang jauh, maka yang demikian sebagai sesuatu yang darurat dan
hendaklah di tinggalkan. Dan jka di paksakan, maka akan mendapati banyak
kesulitan. Namun jika hal itu di maksudkan untuk melatih siswa,maka sebaiknya
tidak menggunakan lafadz-lafadz yang ada dalam al-Qur’an.sebab aplikasi i’rab
pada sl-Qur’an harus di dasarkan pada kenyakinan bahwa yang di lakukanya
sebagai suatu kebenaran.se andainya di dalamnya tidak terdapat aturan yang
baku, maka hendaklah di kemukakan aspek-aspek yang paling memunkinkan dan
jangan sampai terjadi kesalahan. Oleh karenanya, suatu kekeliruan jika sampai
ada orang yang mengatakan bahwa berhenti (waqof) pada lafadz junaha atau
‘alaihi sebagai ighra’,sebab igra’ al ghoib, meng igra’ orang
ketiga adalah dhaif. Adapun ayat yang di maksud tersebut adalah:
ô`yJsù ¢kym |Møt7ø9$# Írr& tyJtFôã$# xsù yy$oYã_ Ïmøn=tã br& §q©Üt $yJÎgÎ/ 4
“Maka Barangsiapa yang beribadah
haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan
sa'i antara keduanya” (QS. Al-Baqarah/2:158).
Sesuatu kekeliruan pula, jika ada orang yang mengatakan bahwa lafadz ahsan
dalam QS.al-An’am/6:154 di baca dengan rafa’, ahsanu, lalu huruf wawu
di buang dan keberadaanya di
gantikan dengan dhommah, sebab ayat tersebut dalam kategori sya’ir. Yang
bener adalah bahwa lafadz ahsan berkedudukan sebagai khabar dari
mubtada’ yang dibuang, yang takdirnya adalah huwa ahsan. Adapun ayat
yang di maksud tersebut adalah:
¢OèO $oY÷s?#uä
ÓyqãB
|=»tGÅ3ø9$# $·B$yJs?
n?tã üÏ%©!$#
z`|¡ômr&
WxÅÁøÿs?ur Èe@ä3Ïj9
&äóÓx«
Yèdur ZpuH÷quur
Nßg¯=yè©9 Ïä!$s)Î=Î/
óOÎgÎn/u tbqãZÏB÷sã ÇÊÎÍÈ
154. Kemudian Kami telah
memberikan Al kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami)
kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan
sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui
Tuhan mereka. (QS.al-An’am/6:154)
Demikian juga firman allah pada ayat QS.
Al-Ahzab/33:33: sebagai berikut:
$yJ¯RÎ)
ßÌã ª!$#
|=ÏdõãÏ9
ãNà6Ztã }§ô_Íh9$#
@÷dr&
ÏMøt7ø9$#
ö/ä.tÎdgsÜãur #ZÎgôÜs?
ÇÌÌÈ
. Sesungguhnya Allah bermaksud
hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.QS. al-Ahzab/33:33)
Suatu kekeliruan juga bila lafadz ahl al-bait pada ayat di baca
fathah (manshub) sebab memiliki kekhususan karena berada setelah kata
ganti orang kedua (dhamir al-mutakallim). Yang bener adalah lafadz
tersebut sebagai munada’.
Keempat, hendaklah memperhatikan semua yang di kandung oleh suatu lafadz dari
beberapa aspek yang tampak (dhahir). Sebagai contoh firmannya Allah: Ë
ربك الأعلى (sucikanlah tuhanmu yang maha tinggi” (QS.
Al-A’la’/87:1). Lafadz al-a’la pada ayat di atas, di lihat dari
kedudukannya memiliki dua kemungkinan, yaitu sebagai sifat dari lafadz rabb,
atau sebagai sifat dari lafadz ism. [3]
D. Penutup
Suatu lafadz atau kalimat yang kemasukan amil dan terjadi perubahan harokat
atau huruf itu di namakan dengan mu’rab dan apabila tidak terjadi perubahan
sama sekali itu dinamakan dengan mabni. Dan banyak sekali dalam susunan bahasa
termasuk dalam al-Qur’an di temukan kalimat yang sama tapi berbeda harokat dan
mempunyai arti berbeda yang apabila tidak hati-hati dalam membaca lafadz-lafadz
tersebut akan bisa mengkafirkan si pembaca seperti pada surah di atas.
DAFTAR PUSTAKA
Nur Ichwan,Mohammad.memahami bahasa
al-qur’an .Yogyakarta: Celaban timur, 2002.
Al-shanhaji,Syeikh
Abu Abdillah Muhammad bin Dawud.Kitab Jurumiyah. T,t.
AL-I'RAB
Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Ulumul qur’an 4”
Dosen Pengampu:
M.Zainal
Arifin,S.ag,M.HI
NIP: 19740825
199903 2 003
Oleh:
Ahmad Hadi Wiyono
( 903300511)
PRODI TAFSIR HADIST
JURUSAN USHULUDDIN DAN ILMU SOSIAL
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAIN KEDIRI)
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar