A.
PENDAHULUAN
Pencarian kebahagiaan melalui spriritual begitu terkesampingkan. Alienasi
tersebut terjadi di antaranya karena kemajuan material ternyata banyak mengorbankan
penderitaan spiritual. Kemudahan-kemudahan hidup yang dihasilkan oleh kemajuan
teknologi modern membuat banyak orang jadi mengabaikan ruang rohani dalam
dirinya.
Sebagai salah satu bentuk pemahaman dalam Islam
telah memperkenalkan betapa ajaran cinta (mahabbah) menempati kedudukan
yang tinggi. Hal itu terlihat dari bagaimana para ulama sufi, seperti Imam al-Ghazali,
menempatkan mahabbah sebagai salah satu tingkatan puncak yang harus
dilalui oleh para sufi.
B.
DASAR-DASAR AJARAN MAHABBAH
1.
Dasar Syara’
Ajaran mahabbah
memiliki dasar dan landasan, baik di dalam Alquran maupun Sunah Nabi SAW.
Hal ini juga menunjukkan bahwa ajaran tentang cinta khususnya dan tasawuf
umumnya, dalam Islam tidaklah mengadopsi dari unsur-unsur kebudayaan asing atau
agama lain seperti yang sering ditudingkan oleh kalangan orientalis.[1]
a.
Dalil-dalil dalam al-Qur’an,
misalnya sebagai berikut:
1)
QS. Al-Baqarah ayat 165
ÆÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB äÏGt `ÏB Èbrß «!$# #Y#yRr& öNåktXq6Ïtä Éb=ßsx. «!$# (
tûïÉ©9$#ur (#þqãZtB#uä x©r& ${6ãm °! 3
öqs9ur tt tûïÏ%©!$# (#þqãKn=sß øÎ) tb÷rtt z>#xyèø9$# ¨br& no§qà)ø9$# ¬! $YèÏJy_ ¨br&ur ©!$# ßÏx© É>#xyèø9$# ÇÊÏÎÈ
“Dan di antara manusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”.
2)
QS. Al-Maidah ayat 54
$pkr¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä `tB £s?öt öNä3YÏB `tã ¾ÏmÏZÏ t$öq|¡sù ÎAùt ª!$# 5Qöqs)Î/ öNåk:Ïtä ÿ¼çmtRq6Ïtäur A©!Ïr& n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# >o¨Ïãr& n?tã tûïÍÏÿ»s3ø9$#
crßÎg»pgä
Îû È@Î6y «!$# wur tbqèù$ss sptBöqs9 5OͬIw 4 y7Ï9ºs ã@ôÒsù «!$# ÏmÏ?÷sã `tB âä!$t±o 4 ª!$#ur ììźur íOÎ=tæ ÇÎÍÈ
“Hai orang-orang yang beriman, barang
siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun
mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”.
3)
QS. Ali Imran ayat 31
ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq7Åsè? ©!$# ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósã ª!$# öÏÿøótur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRè 3 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÊÈ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
b. Dalil-dalil dalam hadis Nabi Muhammad SAW,
misalnya sebagai berikut:
ثَلَاثٌ مَنْ
كُنَّ فِيهِ وَجَدَ
حَلَاوَةَ اْلإِيمَانِ أَنْ
يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا
سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ
الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ
إِلاَّ ِللهِ وَأَنْ
يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ
فِي الْكُفْرِ كَمَا
يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ
فِي النَّارِ.
Tiga hal yang barang
siapa mampu melakukannya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: pertama
Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; kedua:
tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena Allah; ketiga benci
kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka.[2]
….. وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا …
….Tidaklah seorang
hamba-Ku senantiasa mendekati-Ku dengan ibadah-ibadah sunah kecuali Aku akan
mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang
ia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk
melihat; menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul; dan menjadi kakinya
yang ia gunakan untuk berjalan. …[3]
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين
Tidak beriman seseorang
dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan
seluruh manusia.[4]
2.
Dasar Filosofis
Dalam mengelaborasi dasar-dasar filosofis ajaran
tentang cinta (mahabbah) ini, al-Ghazali merupakan ulama tasawuf yang
pernah melakukannya dengan cukup bagus. Menurut beliau, ada tiga hal yang
mendasari tumbuhnya cinta dan bagaimana kualitasnya, yaitu sebagai berikut:
- Cinta tidak akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma’rifat) dan pengetahuan (idrak)
Manusia hanya akan mencintai
sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal. Karena itulah, benda mati tidak
memiliki rasa cinta. Dengan kata lain, cinta merupakan salah satu keistimewaan
makhluk hidup. Jika sesuatu atau seseorang telah dikenal dan diketahui dengan
jelas oleh seorang manusia, lantas sesuatu itu menimbulkan kenikmatan dan
kebahagiaan bagi dirinya, maka akhirnya akan timbul rasa cinta. Jika
sebaliknya, sesuatu atau seseorang itu menimbulkan kesengsaraan dan
penderitaan, maka tentu ia akan dibenci oleh manusia. [5]
- Cinta terwujud sesuai dengan tingkat pengenalan dan pengetahuan
Semakin intens pengenalan dan
semakin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek, maka semakin besar
peluang obyek itu untuk dicintai. Selanjutnya, jika semakin besar kenikmatan
dan kebahagiaan yang diperoleh dari obyek yang dicintai, maka semakin besar
pula cinta terhadap obyek yang dicintai tersebut.
Kenikmatan dan kebahagiaan itu
bisa dirasakan manusia melalui pancaindranya. Kenikmatan dan kebahagiaan
seperti ini juga dirasakan oleh binatang. Namun ada lagi kenikmatan dan
kebahagiaan yang dirasakan bukan melalui pancaindra, namun melalui mata hati.
Kenikmatan rohaniah seperti inilah yang jauh lebih kuat daripada kenikmatan
lahiriah yang dirasakan oleh pancaindra. Dalam konteks inilah, cinta terhadap
Tuhan terwujud.
- Manusia tentu mencintai dirinya
Hal pertama yang dicintai oleh
makhluk hidup adalah dirinya sendiri dan eksistensi dirinya. Cinta kepada diri
sendiri berarti kecenderungan jiwa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya
dan menghindari hal-hal yang bisa menghancurkan dan membinasakan kelangsungan
hidupnya.
Selanjutnya al-Ghazali
juga menguraikan lebih jauh tentang hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya cinta.
Pada gilirannya, sebab-sebab tersebut akan mengantarkan seseorang kepada cinta
sejati, yaitu cinta kepada Tuhan Yang Maha Mencintai. Sebab-sebab itu adalah
sebagai berikut:
a.
Cinta kepada diri sendiri, kekekalan, kesempurnaan,
dan keberlangsungan hidup
Orang yang
mengenal diri dan Tuhannya tentu ia pun mengenal bahwa sesungguhnya ia tidak
memiliki diri pribadinya. Eksistensi dan kesempurnaan dirinya adalah tergantung
kepada Tuhan yang menciptakannya. Jika seseorang mencintai dirinya dan
kelangsungan hidupnya, kemudian menyadari bahwa diri dan hidupnya dihasilkan
oleh pihak lain, maka tak pelak ia pun akan mencintai pihak lain tersebut. Saat
ia mengenal bahwa pihak lain itu adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, maka cinta kepada
Tuhan pun akan tumbuh. Semakin dalam ia mengenal Tuhannya, maka semakin
dalam pula cintanya kepada Tuhan.
b.
Cinta kepada orang yang berbuat baik
Pada
galibnya, setiap orang yang berbuat tentu akan disukai oleh orang lain. Hal ini
merupakan watak alamiah manusia untuk menyukai kebaikan dan membenci kejahatan.
Namun pada dataran manusia dan makhluk umumnya, pada hakikatnya kebaikan adalah
sesuatu yang nisbi. Karena sesungguhnya, setiap kebaikan yang dilaksanakan oleh
seseorang hanyalah sekedar menggerakkan motif tertentu, baik motif duniawi
maupun motif ukhrawi.
Untuk
motif duniawi, hal itu adalah jelas bahwa kebaikan yang dilakukan tidaklah
ikhlas. Namun untuk motif ukhrawi, maka kebaikan yang dilakukan juga tidak
ikhlas, karena masih mengharapkan pahala, surga, dan seterusnya. Pada
hakikatnya, ketika seseorang memiliki motif ukhrawi atau agama, maka hal itu
juga akan mengantarkan kepada pemahaman bahwa Allah jugalah yang berkuasa
menanamkan ketaatan dan pengertian dalam diri dan hatinya untuk melakukan kebaikan
sebagaimana yang Allah perintahkan. Dengan kata lain, orang yang berbuat baik
tersebut pada hakikatnya juga terpaksa, bukan betul-betul mandiri, karena masih
berdasarkan perintah Allah.
Ketika
kesadaran bahwa semua kebaikan berujung kepada Allah, maka cinta kepada
kebaikan pun berujung kepada Allah. Hanya Allah yang memberikan kebaikan kepada
makhluk-Nya tanpa pamrih apapun. Allah berbuat baik kepada makhluk-Nya bukan
agar Ia disembah. Allah Maha Kuasa dan Maha Suci dari berbagai pamrih. Bahkan meskipun
seluruh makhluk menentang-Nya, kebaikan Allah kepada para makhluk tetap
diberikan. Kebaikan-kebaikan Allah kepada makhluk-Nya itu sangat banyak dan
tidak akan mampu oleh siapa pun. Karena itulah, pada gilirannya bagi orang yang
betul-betul arif, akan timbul cinta kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Baik,
yang memberikan berbagai kebaikan dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.
c.
Mencintai diri orang yang berbuat baik meskipun
kebaikannya tidak dirasakan
Mencintai
kebaikan per se juga merupakan watak dasar manusia. Ketika seseorang
mengetahui bahwa ada orang yang berbuat baik, maka ia pun akan menyukai orang
yang berbuat baik tersebut, meskipun kebaikannya tidak dirasakannya langsung.
Seorang penguasa yang baik dan adil, tentu akan disukai rakyatnya, meskipun si
rakyat jelata tidak pernah menerima langsung kebaikan sang penguasa. Sebaiknya,
seorang pejabat yang lalim dan korup, tentu akan dibenci oleh rakyat, meski
sang rakyat tidak mengalami langsung kelaliman dan korupsi sang pejabat.
Hal ini
pun pada gilirannya akan mengantar kepada cinta terhadap Allah. Karena
bagaimanapun, hanya karena kebaikan Allah tercipta alam semesta ini. Meski
seseorang mungkin tidak langsung merasakannya, kebaikan Allah yang menciptakan
seluruh alam semesta ini menunjukkan bahwa Allah memang pantas untuk dicintai.
Kebaikan Allah yang menciptakan artis Dian Sastrowardoyo nan cantik jelita
namun tinggal di Jakarta, misalnya, adalah kebaikan yang tidak langsung
dirasakan seorang Iwan Misbah yang tinggal nun jauh di Ciwidey.
d.
Cinta kepada setiap keindahan
Segala
yang indah tentu disukai, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lagu
yang indah dirasakan oleh telinga. Wajah yang cantik diserap oleh mata. Namun
keindahan sifat dan perilaku serta kedalaman ilmu, juga membuat seorang Imam
Syafi’i, misalnya, dicintai oleh banyak orang. Meskipun mereka tidak tahu
apakah wajah dan penampilan Imam Syafi’i betul-betul menarik atau tidak.
Keindahan yang terakhir inilah yang merupakan keindahan batiniah. Keindahan
yang bersifat batiniah inilah yang lebih kuat daripada keindahan yang bersifat
lahiriah. Keindahan fisik dan lahiriah bisa rusak dan sirna, namun keindahan
batiniah relatif lebih kekal.
Pada
gilirannya, segala keindahan itu pun akan berujung pada keindahan Tuhan yang
sempurna. Namun keindahan Tuhan adalah keindahan rohaniah yang hanya dapat
dirasakan oleh mata hati dan cahaya batin. Orang yang betul-betul menyadari
betapa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan segala sifat kesempurnaan melekat
dalam Zat-Nya, maka tak ayal ia pun akan menyadari betapa indahnya Tuhan,
sehingga sangat pantas Tuhan untuk dicintai.
e.
Kesesuaian dan keserasian
Jika
sesuatu menyerupai sesuatu yang lain, maka akan timbul ketertarikan antara
keduanya. Seorang anak kecil cenderung lebih bisa akrab bergaul dengan sesama
anak kecil. Seorang dosen tentu akan mudah berteman dengan sesama dosen
daripada dengan seorang tukang becak. Ketika dua orang sudah saling mengenal
dengan baik, maka tentu terdapat kesesuaian antara keduanya. Berangkat dari
kesesuaian dan keserasian inilah akhirnya muncul cinta. Sebaliknya, jika dua
orang tidak saling mengenal, kemungkinan besar karena memang terdapat perbedaan
dan ketidakcocokan antara keduanya. Karena ketidakcocokan dan perbedaan pula
akan muncul tidak suka atau bahkan benci.
Dalam
konteks kesesuaian dan keserasian inilah, cinta kepada Tuhan akan muncul. Meski
demikian, kesesuaian yang dimaksud ini bukanlah bersifat lahiriah seperti yang
diuraikan di atas, namun kesesuaian batiniah. Sebagian hal tentang kesesuaian
batiniah ini merupakan misteri dalam dunia tasawuf yang menurut al-Ghazali
tidak boleh diungkapkan secara terbuka. Sedangkan sebagian lagi boleh
diungkapkan, seperti bahwa seorang hamba boleh mendekatkan diri kepada Tuhan
dengan meniru sifat-sifat Tuhan yang mulia, misalnya ilmu, kebenaran, kebaikan,
dan lain-lain.
Terkait
dengan sebab keserasian dan kecocokan ini, satu hal yang perlu digarisbawahi
adalah bahwa Allah tidak akan pernah ada yang mampu menandingi atau
menyerupainya. Keserasian yang terdapat dalam jiwa orang-orang tertentu yang
dipilih oleh Allah, sehingga ia mampu mencintai Allah dengan sepenuh hati,
hanyalah dalam arti metaforis (majazi). Keserasian tersebut adalah
wilayah misteri yang hanya diketahui oleh orang-orang yang betul-betul
mengalami cinta ilahiah.
C.
RABI’AH AL-ADAWIYAH: PERINTIS TASAWUF CINTA
Sosok sufi perempuan ini
sangat dikenal dalam dunia tasawuf. Ia hidup di abad kedua Hijriah, dan
meninggal pada tahun 185 H. Meski ia hidup di Bashrah sebagai seorang hamba
sahaya dari keluarga Atiq, hal itu tidak menghalanginya tumbuh menjadi seorang
sufi yang disegani di zamannya, bahkan hingga di zaman modern sekarang ini.[6]
Corak tasawuf Rabi’ah yang
begitu menonjolkan cinta kepada Tuhan tanpa pamrih apapun merupakan suatu corak
tasawuf yang baru di zamannya. Pada saat itu, tasawuf lebih didominasi corak
kehidupan zuhud (asketisme) yang sebelumnya dikembangkan oleh Hasan
al-Bashri yang mendasarkan ajarannya pada rasa takut (khauf) kepada
Allah. Corak tasawuf yang dikembangkan oleh Rabi’ah tersebut kelak membuatnya
begitu dikenal dan menduduki posisi penting dalam dunia tasawuf.[7]
Sedemikian tulusnya cinta
kepada Allah yang dikembangkan oleh Rabi’ah, bisa dilihat, misalnya, dalam
sebuah munajat yang ia panjatkan: “Tuhanku, sekiranya aku beribadah
kepada-Mu karena takut neraka-Mu, biarlah diriku terbakar api jahanam. Dan
sekiranya aku beribadah kepada-u karena mengharap surga-Mu, jauhkan aku
darinya. Tapi, sekiranya aku beribadah kepada-Mu hanya semata cinta kepada-Mu,
Tuhanku, janganlah Kauhalangi aku melihat keindahan-Mu yang abadi.”[8]
Saking besar dan tulusnya
cinta Rabi’ah kepada Allah, maka seolah cintanya telah memenuhi seluruh
kalbunya. Tak ada lagi tersisa ruang di hatinya untuk mencintai selain Allah,
bahkan kepada Nabi Muhammad sekalipun. Pun, tak ada ruang lagi di kalbunya
untuk membenci apapun, bahkan kepada setan sekalipun. Seluruh hatinya telah
penuh dengan cinta kepada Tuhan semata. Hal ini juga Rabi’ah tunjukkan dengan
memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya, karena ia menganggap seluruh
diri dan hidupnya hanya untuk Allah semata. [9]
D.
DOKTRIN-DOKTRIN MAHABBAH
1.
Makna Cinta di
Kalangan Sufi
Dalam tasawuf, konsep cinta (mahabbah)
lebih dimaksudkan sebagai bentuk cinta kepada Tuhan.[10] Meski demikian, cinta
kepada Tuhan juga akan melahirkan bentuk kasih sayang kepada sesama, bahkan
kepada seluruh alam semesta. Hal ini bisa dilacak pada dalil-dalil syara’, baik
dalam Alquran maupun hadis yang menunjukkan tentang persoalan cinta. Sebagian
dalil tersebut telah disebutkan pada bagian sebelumnya dalam makalah ini.
Secara terminologis,
sebagaimana dikatakan al-Ghazali, cinta adalah suatu kecenderungan terhadap
sesuatu yang memberikan manfaat. Apabila kecenderungan itu mendalam dan
menguat, maka ia dinamakan rindu. Sedangkan sebaliknya, benci adalah
kecenderungan untuk menghindari sesuatu yang menyakiti. Apabila kecenderungan
untuk menghindari itu mendalam dan menguat, maka ia dinamakan dendam.[11]
Menurut Abu Yazid al-Busthami
mengatakan bahwa cinta adalah menganggap sedikit milikmu yang sedikit dan
menganggap banyak milik Dzat yang kau cintai. Sementara Sahl bin Abdullah
al-Tustari menyatakan bahwa cinta adalah melakukan tindak-tanduk ketaatan dan
menghindari tindak-tanduk kedurhakaan. Bagi al-Junaid, cinta adalah
kecenderungan hati. Artinya, kecenderungan hati seseorang kepada Allah dan
segala milik-Nya tanpa rasa beban.
2.
Cinta Sejati adalah Cinta
kepada Allah
Bagi al-Ghazali, orang yang
mencintai selain Allah, tapi cintanya tidak disandarkan kepada Allah, maka hal
itu karena kebodohan dan kepicikan orang tersebut dalam mengenal Allah. Cinta
kepada Rasulullah SAW, misalnya, adalah sesuatu yang terpuji karena cinta
tersebut merupakan manifestasi cinta kepada Allah. Hal itu karena Rasulullah
adalah orang yang dicintai Allah. Dengan demikian, mencintai orang yang
dicintai oleh Allah, berarti juga mencintai Allah itu sendiri. Begitu pula
semua bentuk cinta yang ada. Semuanya berpulang kepada cinta terhadap Allah.[12]
Jika sudah dipahami dan
disadari dengan baik lima sebab timbulnya cinta yang telah diuraikan al-Ghazali
sebelumnya, maka juga bisa disadari bahwa hanya Allah yang mampu mengumpulkan
sekaligus kelima faktor penyebab cinta tersebut. Kelima faktor penyebab
tersebut terjadi pada diri manusia hanyalah bersifat metaforis (majazi), dan
bukanlah hakiki.[13] Hanya Allah Yang Maha Sempurna. Ia tidak
bergantung kepada apapun dan siapa pun. Kesempurnaan itulah yang akan
mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta terhadap Allah.[14]
3.
Mahabbah: antara Maqam dan Hal
Sebagaimana diketahui, dalam
terminologi tasawuf ada istilah maqam (tingkatan) dan hal (keadaan,
kondisi kejiwaan). Menurut as-Sarraj ath-Thusi dalam kitabnya al-Luma’,
maqam merujuk kepada tingkatan seorang hamba di depan Tuhan pada suatu
tingkat yang ia ditempatkan di dalamnya, berupa ibadah, mujahadah, riyadhah,
dan keterputusan (inqitha’) kepada Allah. Sedangkan hal adalah
apa yang terdapat di dalam jiwa atau sesuatu keadaan yang ditempati oleh hati.
Sementara menurut al-Junaid, hal adalah suatu “tempat” yang berada di dalam
jiwa dan tidak statis.
Menurut al-Ghazali, cinta
kepada Allah (mahabbah) merupakan tingkatan (maqam) puncak dari
rangkaian tingkatan dalam tasawuf. Tak ada lagi tingkatan setelah mahabbah selain
hanya sekedar efek sampingnya saja, seperti rindu (syauq), mesra (uns),
rela (ridla), dan sifat-sifat lain yang serupa. Di samping itu,
tidak ada satu tingkatan pun sebelum mahabbah selain hanya sekedar
pendahuluan atau pengantar menuju ke arah mahabbah, seperti taubat,
sabar, zuhud, dan lain-lain..[15] Cinta sebagai maqam ini juga diamini oleh
Ibn Arabi. Menurutnya, cinta merupakan maqam ilahi.[16]
Berbeda dengan al-Ghazali,
menurut al-Qusyairi, mahabbah merupakan termasuk hal. Bagi
al-Qusyairi, cinta kepada Tuhan (mahabbah) merupakan suatu keadaan yang
mulia saat Tuhan bersaksi untuk sang hamba atas keadaannya tersebut. Tuhan
memberitahukan tentang cinta-Nya kepada sang hamba. Dengan demikian, Tuhan
disifati sebagai yang mencintai sang hamba. Selanjutnya, sang hamba pun
disifati sebagai yang mencintai Tuhan.[17]
4.
Tingkatan Cinta
Dilihat dari segi orangnya,
menurut Abu Nashr ath-Thusi, cinta kepada Tuhan terbagi menjadi tiga macam
cinta. Pertama, cinta orang-orang awam. Cina seperti ini muncul karena
kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepada mereka. Ciri-ciri cinta ini adalah
ketulusan dan keteringatan (zikir) yang terus-menerus. Karena jika orang
mencintai sesuatu, maka ia pun akan sering mengingat dan menyebutnya
Kedua, cinta orang-orang yang shadiq dan mutahaqqiq.
Cinta mereka ini timbul karena penglihatan mata hati mereka terhadap
kekayaan, keagungan, kebesaran, pengetahuan dan kekuasaan Tuhan. Ciri-ciri
cinta ini adalah “terkoyaknya tabir” dan “tersingkapnya rahasia” Tuhan. Selain
itu, ciri lain adalah lenyapnya kehendak serta hilangnya semua sifat
(kemanusiaan dan keinginan duniawi
Ketiga, cinta orang-orang shiddiq dan arif.
Cinta macam ini timbul dari penglihatan dan pengenalan mereka terhadap ke-qadim-an
Cinta Tuhan tanpa sebab (illat) apapun. Menurut Zunnun al-Mishri, sifat
cinta ini adalah terputusnya cinta dari hati dan tubuh sehingga cinta tidak
lagi bersemayam di dalamnya, namun yang bersemayam hanyalah segala sesuatu dengan
dan untuk Allah. Sedangkan menurut Abu Ya’qub as-Susi, cirinya alah
berpaling dari cinta menuju kepada Yang Dicintai. Sementara al-Junaid
menambahkan bahwa ciri cinta macam ini adalah meleburnya sifat-sifat Yang
Dicintai kepada yang mencintai sebagai pengganti sifat-sifatnya.
- PENGARUH DOKTRIN MAHABBAH
Semenjak Rabi’ah al-Adawiyah
mengungkapkan corak tasawuf melalui puisi, prosa, atau dialognya, ajaran cinta
ilahi (mahabbah) pun mulai menjadi tema menarik di kalangan tasawuf.
Gambaran tentang Tuhan pun tidak lagi begitu menakutkan seperti sebelumnya.
Tuhan seolah menjadi lebih dekat dan lebih “manusiawi”.
Pada perkembangan tasawuf
selanjutnya, mahabbah selalu menjadi tema yang mendapat pembahasan
secara khusus. Para sufi pun banyak yang membahas lebih mendalam tentang tema
ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Hujwairi dengan Kasyf al-Mahjub, ath-Thusi
dengan al-Luma’, al-Qusyairi dengan ar-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Ghazali
dengan Ihya Ulumiddin, Ibnu Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyah, dan
lain-lain.
Pada bidang puisi, banyak para
sufi yang juga sekaligus penyair yang kemudian menyenandung cinta ilahi,
seperti Abu Sa’id bin Abi al-Khair, al-Jilli, Ibnu al-Faridh, Jalaluddin Rumi,
dan lain-lain. Hingga sekarang, para penyair sufi kontemporer masih banyak yang
menyenandungkan puisi-puisi cinta ilahi, seperti Syekh Fattah yang membentuk
kelompok musik Debu yang kini ada di Indonesia.
F. PENUTUP
Ajaran cinta ilahi yang
dikumandangkan oleh tasawuf sebenarnya bisa dijadikan sarana kita untuk lebih
memperhalus jiwa. Kehalusan jiwa yag dihasilkan oleh tasawuf ini diperlukan
agar agama tidak selalu dipahami secara legal-formalistik belaka yang biasanya
ditampilkan oleh kalangan ahli fikih. Dengan demikian, agama pun diharapkan
bisa menjadi berwajah toleran, humanis, dan menerima realitas pluralistik yang
ada di tengah di masyarakat, seperti puisi yang didengungkan oleh Ibnu Arabi di
awal makalah.
Meski demikian, ajaran cinta
dalam Alquran sendiri, juga menghendaki keseimbangan antara sisi individual dan
sosial; antara emosional dan rasional. Dari penelitian yang pernah dilakukan
penulis, term-term cinta yang ditampilkan Alquran justru bersifat dinamis dan
menghendaki aktualisasi riil dalam realitas sosial. Cinta dalam Alquran hampir
selalu ditempatkan dalam konteks untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan sosial
Karena itu tidaklah mengherankan jika di akhir abad 19 hingga awal abad 20, beberapa
kelompok sufi di Afrika Utara menjadi pendorong perlawanan terhadap penjajahan
Barat. Wallahu a’lam.
DAFTAR
PUSTAKA
Ridha, Abdurrasyid, Memasuki Makna Cinta, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003).
al-Qusyari, Abu al-Qasim,
ar-Risalah al-Qusyairiyyah, (format
e-book dalam Program Syamilah).
al-Ghanimi al-Taftazani, Abu al-Wafa, Sufi dari
Zaman ke Zaman, Suatu Pengantar tentang Tasawuf, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani,
(Bandung: Pustaka, 1985).
Muhammad al-Kalabadzi, Abu Bakr, at-Ta’arruf li
Mazhab Ahl at-Tashawwuf, (tk.: Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1969).
Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Abu Hamid, Ihya
Ulumiddin, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, tt).
as-Sarraj
ath-Thusi, Abu
Nashr, al-Luma’, (Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1960).
Al-Hujwairi, Kasyful Mahjub, terj. Suwardjo
Muthary dan Abdul Hadi WM, (Bandung: Mizan, 1993).
Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam
Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973).
Ibn al-Mulqin, Thabaqat al-Auliya, (format
e-book Program al-Maktabah asy-Syamilah)
Abu Abdillah al-Bukhari al-Ja’fi, Muhammad bin
Ismail, al-Jami’ as-Shahih al-Mukhtashar, ed. Mushtafa Dib al-Biqha,
(Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987).
Ibnu Arabi, Muhyiddin, al-Futuhat al-Makkiyah, (format e-book
dalam Program Syamilah).
______, Dzakhair al-A’laq Syarh Tarjuman
al-Asywaq, seperti dikutip oleh Syamsuddin Arif, “Ibnu Arabi dan
Pluralisme” dalam www.hidayatullah.com
Abu al-Husain al-Qusyairi an-Naisaburi, Muslim
bin al-Hajjaj, Sahih Muslim, ed. Muhammad Fuad Abd al-Baqi, (Beirut: Dar
Ihya at-Turats al-Arabi, tt).
Ibn al-Arabi, Muhyiddin, The Tarjuman
al-Ashwaq, (London: Theosophical Publishing House Ltd, 1978), hal. 19.
Abu Abdillah
al-Bukhari al-Ja’fi, Muhammad bin Ismail, al-Jami’ as-Shahih al-Mukhtashar, ed.
Mushtafa Dib al-Biqha, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), juz 1, hal. 14.
Ibn al-Mulqin, Thabaqat
al-Auliya, (format e-book Program al-Maktabah asy-Syamilah), juz 1,
hal. 68.
Ibid., hal. 85.
Al-Taftazani., Sufi
dari Zaman ke Zaman., op. cit., hal. 86.
Nasution, Harun,
Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973),
hal. 74.
Ibid., hal. 70.
[1] Lihat kajian
tentang sumber-sumber tasawuf dan tudingan para orientalis, misalnya, dalam Abu
al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Suatu Pengantar
tentang Tasawuf, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani, (Bandung: Pustaka, 1985) hal.
22-34.
http://racheedus.wordpress.com/makalahku/konsep-cinta-mahabbah-dalam-tasawuf/.
08-04-2012, 08;44
[2] Muhammad bin
Ismail Abu Abdillah al-Bukhari al-Ja’fi, al-Jami’ as-Shahih al-Mukhtashar, ed.
Mushtafa Dib al-Biqha, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), juz 1, hal. 14.
http://racheedus.wordpress.com/makalahku/konsep-cinta-mahabbah-dalam-tasawuf/
,08-04-2012’ 08;44
[4] Muslim bin
al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusyairi an-Naisaburi, Sahih Muslim, ed.
Muhammad Fuad Abd al-Baqi, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tt), juz 1,
hal. 67.
http://racheedus.wordpress.com/makalahku/konsep-cinta-mahabbah-dalam-tasawuf/
,08-04-2012’ 08;44
[5] Lihat,
penjelasan al-Ghazali pada Kitab al-Mahabbah wa asy-Syauq wa ar-Ridha, dalam
al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, op. cit., juz 4, hal. 296-300,
http://racheedus.wordpress.com/makalahku/konsep-cinta-mahabbah-dalam-tasawuf/
,08-04-2012’ 08;44
[6] Ibn al-Mulqin, Thabaqat al-Auliya, (format e-book
Program al-Maktabah asy-Syamilah), juz 1, hal. 68.
[8] Al-Taftazani., Sufi dari Zaman ke Zaman., op. cit., hal.
86.
http://racheedus.wordpress.com/makalahku/konsep-cinta-mahabbah-dalam-tasawuf/
,08-04-2012’ 08;44
[16] Ibnu Arabi, al-Futuhat
al-Makkiyah, (format e-book Program al-Maktabah asy-Syamilah), juz
3, hal. 465. http://racheedus.wordpress.com/makalahku/konsep-cinta-mahabbah-dalam-tasawuf/
,08-04-2012’ 08;44
[17] Abu al-Qasim al-Qusyari, ar-Risalah
al-Qusyairiyyah, (format e-book Program al-Maktabah asy-Syamilah),
hal. 143.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar